Wednesday, May 9, 2012

KeJUJURan

Pada tahun ke-6 Hijrah, Abu Sufyan berniaga ke Syam. Di sana dia mendapat undangan khas dari Kaisar Heraclius untuk berbincang seputar sifat Nabi Muhammad SAW serta ajaran yang didakwahkannya.

Abu Sufyan yang pada waktu itu belum memeluk Islam serta masih memusuhi Islam dan kaum Muslimin, dengan tegas menjelaskan sifat dan akhlak mulia Rasulullah SAW. Nabi Muhammad SAW adalah sosok manusia yang jujur tanpa pernah sekalipun berdusta.

Nabi Muhammad SAW mengajak manusia untuk mengesakan Tuhan dan berbudi pekerti luhur. "Demi Allah, jika bukan kerana aku khawatir orang-orang akan menjuluki diriku sebagai seorang pendusta, nescaya aku akan berdusta tentang Muhammad." (Hadith Riwayat Bukhari)

Rasulullah SAW memang terkenal sebagai orang yang jujur dan berakhlak mulia. Sejak kecil baginda sudah menyandang julukan al-Amin yang bermaksud terpecaya. Abu Jahal yang selama hidupnya memusuhi Islam dan dan kaum Muslimin yang bahkan sempat mahu membunuh Rasulullah pernah mengatakan,"Kami tidak memdustakanmu, wahai Muhammad (kerana kami tahu bahawa engkau adalah orang yang jujur). Kami hanya mendustakan agama yang engkau dakwahkan."

Allah SWT berfirman;
 Sesungguhnya Kami mengetahui bahawa apa yang mereka katakan itu akan menyebabkan engkau (wahai Muhammad) berdukacita; (maka janganlah engkau berdukacita) kerana sebenarnya mereka mendustakanmu, tetapi orang-orang zalim itu mengingkari ayat-ayat keterangan Allah (disebabkan kedegilan mereka semata-mata)
(Surah Al-An’am, Ayat 33)

Suatu hari seorang sahabat bertanya pada Rasulullah SAW,"Apakah seorang mukmin akan berdusta?" Dengan tegas Rasulullah SAW menyatakan tidak. Kemudian baginda membaca ayat 105 surah An-Nahl;
 Sebenarnya yang tergamak berdusta itu hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah dan mereka itu ialah orang-orang yang bertabiat berdusta.

Dapat disimpulkan bahawa orang yang beriman, meyakini kewujudan Allah SWT dan pengetahuan-Nya atas semua amal perbuatan manusia. Seseorang yang berdusta menganggap bahawa Allah SWT tidak ada, atau menganggap Allah SWT ada tetapi tidak mengetahui kedustaan yang dilakukannya.

Rasulullah SAW bersabda,"Sesungguhnya kejujuran akan membawa kebaikan, dan kebaikan akan menghantarkan seseorang ke dalam syurga. Tidaklah seseorang selalu berkata jujur atau berusaha untuk selalu jujur, sehingga Allah mencatatnya sebagai orang yang jujur. Sebaliknya kedustaan akan membawa kederhakaan, dan kederhakaan akan menjerumuskan orang ke neraka. Dan tidaklah seseorang selalu berdusta atau menutupi kedustaannya dengan kedustaan yang lain, kecuali Allah akan mencatatnya sebagai seorang pendusta." (Hadith Riwayat Muttafaq 'Alaih dan Ibnu Mas'ud).

Sumber : Andi Rahman, Mitra Ummat Edisi 273 thn VIII


Monday, May 7, 2012

HIKMAH SAKIT

Sakit adalah kondisi yang tiada siapapun yang menginginkannya. Setiap orang mesti ingin selalu sihat dan berupaya menjaga kesihatan. Namun, sakit kadang-kadang mesti diterima sebagai takdir dan dugaan. Setiap Muslim wajib percaya Allah SWT yang menurunkan penyakit, dan hanya Dia yang Maha Kuasa menyembuhkan.

Rasulullah SAW bersabda,"Berubatlah, Allah tidak mengadakan penyakit melainkan telah diadakan ubatnya, kecuali satu penyakit." Sahabat bertanya,"penyakit apa?" Dijawab,"Penyakit oleh usia tua." (Hadith Riwayat Ahmad)

Sakit yang menimpa manusia mengandungi hikmah di sisi Allah SWT. "Setiap dugaan apapun yang menimpa seorang Muslim, sampai sebuah tusukan duri, adalah kerana salah satu dari dua sebab, yakni kerana Allah hendak mengampuni kesalahannya yang tidak dapat diampuni melainkan dengan dugaan itu, atau Allah hendak memberi suatu kemuliaan yang tidak dapat dicapainya kecuali melalu dugaan itu." (Hadith Riwayat Ibnu Abi Dunya)

Islam mewajibkan berubat apabila sakit. Sementara seorang doktor diwajibkan mengubati pesakit. Segala penyakit yang diderita seseorang tetap ada harapan untuk sembuh tentunya dengan izin Allah SWT, kecuali penyakit kerana gejala umur yang disebut syaikhukhah dan sakit menjelang ajal.

Seorang pakar patologi terkemuka England, Christine Galpin mengatakan,"ilmu pengetahuan sangat sedikit mengetahui tentang ketuaan dan kematian." Demikian pula dengan Imam Al-Qurthubi dalam kitabnya Tazkirah Rahsia Kematian mengatakan,'kematian adalah kafarat bagi seorang Muslim.'

Dalam pengertian tersebut, sakit yang diderita seorang Muslim menjelang akhir hayatnya dapat dipandang sebagai tanda Maha Kasih Allah SWT. Diriwayatkan dari Abu Nu’aim bahawa Rasulullah SAW bersabda,"sesungguhnya seorang Mukmin yang melakukan kesalahan lalu diperberatkan (sakitnya) pada saat kematian, nescaya kesalahannya itu dihapuskan. Seorang kafir yang melakukan kebajikan, dipermudahkan kematian sebagai balasan kebajikan yang telah dilakukannya."

Menziarahi dan mendoakan orang sakit sangat dianjurkan dalam Islam. "Bila kalian berada dekat orang sakit atau baru meninggal dunia, ucapkanlah yang baik-baik, kerana sesungguhnya malaikat akan mengaminkan apapun yang kalian ucapkan ketika itu." (Hadith Riwayat Muslim)

Selanjutnya patut diperhatikan maksud hadith berikut,"janganlah salah seorang kalian meninggal dunia kecuali dalam keadaan sedang berbaik sangka kepada Allah." (Hadith Riwayat Bukhari dan Muslim)

Sumber : M Fuad Nasar, Mitra Ummat, Edisi 272 thn VIII