Orang-orang yang beriman
mendapatkan pertolongan Allah untuk dapat memenuhi panggilan Bilal di waktu
pagi. Hati mereka tenang dengan berzikir kepada Allah SWT. Lidah mereka selalu
basah dengan pujian kepada Allah SWT. Mata mereka memandang dengan cinta. Mereka
menjual darah mereka kepada Allah SWT. Mereka menunggu saat berkorban untuk
Allah SWT. Mereka murahkan harga diri mereka demi berkhidmat kepada Allah SWT.
Semua kelelahan Allah SWT dijalan keredhaan Allah SWT adalah peristirahatan. Berjaga di waktu malam untuk memperhambakan
diri kepada-Nya adalah sebuah kesempatan yang sangat dirindukan. Semua
kelaparan demi-Nya adalah ghanimah atau harta.
Jika engkau melihat hamba dunia
berbangga dengan wangnya, lalu berkata dan berteriak seperti serigala lapar, bercerminlah
pada dirimu. Bila engkau diseru oleh mereka yang mencibirmu kerana engkau
berjaga dan beribadah di waktu malam. Jika engkau dipanggil oleh orang yang
lalai dari waktu berdekatan bersama Allah. Jika engkau diseru oleh mereka yang
berat melakukan ketaatan. Yang berpaling dari sembahyang berjemaah.
Bercerminlah dirimu. Sesungguhnya kita mempunyai kebaikan lebih dari mereka.
Kehidupan kita penuh dengan keseriusan , tapi kehidupan mereka hanya hanya
gurau permainan. Mereka selalu berada di wilayah yang menggelisahkan. Sedangkan
kita berada di wilayah yang tidak mengenal gelisah. Setiap kali kita akan
tergelincir, ada yang memperingatkan
kita,"Bertaubatlah…..bertaubatlah."
Pernahkah engkau mencium wangi
nafas orang-orang yang bertaubat?
Pernahkah engkau mendengar ada air
yang lebih nikmat dari air mata orang-orang yang menyesal melakukan dosa?
Pernahkah engkau melihat pakaian
yang lebih indah dari pakaian orang yang ihram?
Pernahkah engkau melakukan
sembahyang dua rakaat dan menangis kepada Allah?
Kehidupan tanpa ruku’ adalah
kehancuran. Usia tanpa air adalah kerugian. Kini kebenaran telah tiba.
Kafilahnya telah datang. Mari, naiklah bersama kami dalam perahu keselamatan. Segeralah
dan cepatlah melangkah agar engkau selamat dati kehancuran. Sejak engkau bangun
dari tidurmu, engkau sudah berada dalam pertarungan melawan syaitan. Engkau sudah
dalam kondisi jibaku melawan teman-teman yang buruk di dunia. Engkau melawan
nafsu. Engkau bergelut dengan keinginan dusta dan khayalan yang tak tentu arah.
Bukalah catatanmu setelah fajar.
Aturlah waktu harimu. Peliharalah agar engkau berada di saf pertama kerana
itulah rumus perjanjian dan komitmen. Hafallah ayat-ayat Al-Quran, dua ayat,
tiga ayat, atau lebih kerana itu bukti kecintaan dan keinginan. Perbaharuilah taubat
dan ISTIGHFAR kerana itulah pintu
penerimaan dan masuknya kebaikan. Tuntutlah ilmu yang berguna dan menunjukimu
pada amal soleh kerana itulah ciri kebahagiaan. Berilah sedekah kepada orang
miskin. Lakukanlah solat dua rakaat di waktu sahur. Dua rakaat di waktu Dhuha.
Berdoalah kepada yang Yang Maha Mengetahui yang ghaib. Zuhudlah dalam
menghadapi kehidupan yang fana. Berusahalah mencapai apa yang disisakan di
akhirat. Allah SWT memerintahkan kita untuk BERISTIGHFAR setiap selesai melakukan amal soleh. Allah SWT
berfirman kepada Rasulullah SAW menjelang akhir usianya;
(Surah An-Nasr, Ayat 1-3)
Rambu-Rambu Jambatan Bagi Hati
Betapa besarnya keperluan pada
jambatan yang dapat menyambung pertalian cinta diantara hati kita. Agar kita
menjadi ummat yang satu. Umat yang tulus dalam tujuan, yang kuat dalam
keinginan, yang tinggi dalam semangat.
Berikut
ini beberapa rambu untuk mewujudkan jambatan yang sangat kita dambakan itu :
1.
Kita
semua harus berpegang teguh kepada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah SAW. Dan
kita harus mempunyai visi yang sama semuanya, yakni memenangkan agama Allah dan
memelihara agama ini.
2.
Toleransi,
memaafkan, mengampuni semua kesalahan yang muncul dari salah satu saudara atau
sahabat kita.
3.
Menghormati
kemampuan, menghargai keistimewaan, tidak meremehkan usaha pihak lain dan menutupi
kondisi mereka.
4.
Menyamakan
musuh dan sasaran aksi kita untuk memerangi para musuh Islam, yang membunuh
para Nabi, yang merampas tempat-tempat suci dan siapa saja yang setia kepada
mereka.
5.
Melihat
ragam masalah dengan kaca mata Rabbani dan secara universal. Menghindari sudut
pandang terhadap suatu masalah yang sempit dan terbatas, menjauhi perhatian
pada hal-hal kecil dan remeh-temeh.
6.
Bekerja
untuk Allah, bukan untuk peribadi, keluarga, keturunan. Tidak ada yang menjadi orientation kecuali Allah Yang Maha
Satu.
7.
Melihat
sisi baik, baik dari individu dalam komuniti kita, dan berusaha menutupi
kekeliruan.
8.
Bertahkim
kepada syariat ketika perselisihan. Merujuk pada dalil bila terjadi pertikaian.
Membuang hawa nafsu, tipu daya dan menghindari memenangkan diri sendiri.
9.
Waspada
dari kedengkian yang pernah terjadi di kalangan ahli kitab sebelum kita.
10.
Tidak
usah menghiraukan orang yang berambisi untuk menjadikan dirinya duduk sebagai
pemimpin, menghindari orang yang memperturutkan hawa nafsunya, dan menjadi
hamba syaitan yang ada dalam dirinya. Orang seperti itu adalah orang yang
lalai, berpura-pura dan tidak peduli.
Sumber :
Mitra Ummat Edisi 271 thn VII


No comments:
Post a Comment